Monday, August 11, 2008

Ketika Uang ‘Berdusta’ Tentang Hidup Anda

NOTE: I find it again and again that people get trapped into mountain of debts because of a wrong (yes, I said it's wrong--I'm not being judgmental, I'm just telling it like it is) mindset about money. People equalize money with having achievement, freedom, respect, power, security and happiness. If you think that way, you have been deceived, and that's why you got trapped in piles of debt. Here is my article. Enjoy!








Ketika Uang ‘Berdusta’ Tentang Hidup Anda





‘Money talks,’ demikian sebuah ungkapan dari negeri Paman Sam. Seringkali uang disinonimkan dengan kekuasaan, pengaruh, dan kemapanan. Ketika pintu tak lagi terbuka, kala problem tertentu menghadang kehidupan, seringkali money talks, uang berbicara, dan segala pintu pun terbuka serta problem terpecahkan. Benarkah selalu demikian?

Menurut Ray Linder, pendiri dan CEO dari Family Financial Concepts, dalam bukunya What Will I Do With My Money? (Northfield Publishing, 2000), ternyata uang bisa saja ‘berkata dusta’ tentang hidup Anda. Ray Linder, yang adalah penasihat investasi serta pembicara populer di berbagai konperensi ini menjelaskan bahwa ada beberapa financial fallacies (argumen-argumen finansial yang salah) berbahaya yang mendasari sikap dan tingkah laku finansial seseorang. Financial fallacies ini cukup masuk akal, dan cukup banyak orang mempercayainya—sehingga sudah diterima sebagai nilai-nilai publik yang normal. Anda perlu mengidentifikasi financial fallacies ini, agar dapat menganalisa paradigma finansial Anda dengan lebih bijak. Mari cermati bersama argumen-argumen finansial yang salah berikut ini.



Uang sama dengan pencapaian. Mereka yang ingin merasa sukses (tentunya dengan berbagai alasan) biasanya ingin mendefinisikan kesuksesannya dengan tolok ukur yang tak terbantahkan dan dapat diterima secara luas. Uang adalah tolok ukur yang sangat cocok untuk itu. Lihatlah label-label yang diberikan pada masyarakat seperti upper class, lower class, serta gradasi-gradasi tambahan di antaranya seperti middle class, upper middle class, dan lower middle class. Keinginan kita untuk menghidupkan terus-menerus ‘perbedaan kasta’ tersebut adalah indikasi dari besarnya arti uang dan sense of accomplishment yang kita peroleh darinya.



Uang berarti kebebasan. Mereka yang merasakan tekanan saat harus membayar berbagai tagihan, menghadapi hubungan yang buruk, tuntutan dari bos, dan memelihara anak dan keluarga, adalah target yang mudah dari fallacy yang satu ini. Argumen ini mengatakan bahwa dengan uang yang cukup Anda bisa mendapatkan kebebasan dan berbagai macam pilihan—dan tidak ada orang yang bisa mendikte mengenai apa yang Anda boleh atau tidak boleh lakukan. Mereka memiliki argumen ini berpikir bahwa jika mereka tidak dapat memiliki apapun yang diinginkan pada saat hal itu diinginkan, penyebabnya adalah karena tidak memiliki uang yang cukup. Sebaliknya, jika memiliki uang maka mereka akan bebas dari tuntutan hidup sehari-hari.



Uang sama dengan respek. Anggapan ini berawal ketika Anda mengasosiasikan nilai diri (self-worth) dengan nilai bersih (net worth) finansial Anda, seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain. Asumsi yang berpusat pada diri sendiri ini adalah suatu penilaian akan kehidupan berdasarkan pada berapa banyak uang (dan juga harta milik) yang dimiliki. Akibatnya, uang dipakai untuk menciptakan rasa percaya diri, serta affection dan loyalitas orang lain pada diri kita.



Uang berarti kekuasaan. Jika uang adalah kekuasaan, berarti memiliki kontrol secara finansial adalah sama dengan memiliki kontrol terhadap situasi dan orang lain. Bila hal ini terus terjadi dalam kehidupan seseorang, maka akibat terus menerus ingin mengejar kontrol atas finansial (agar memiliki kontrol atas hal-hal lainnya) akhirnya ia bisa kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri.



Uang sama dengan keamanan. Tentunya adalah bijak untuk menyisihkan uang Anda untuk menghadapi hal-hal tak terduga di masa depan dan menjadi tenang karenanya. ‘Mereka yang bijak melihat bahaya dari kejauhan dan mengantisipasinya, namun mereka yang bodoh melangkah dengan buta dan terkena akibatnya’, demikian ungkapan bijak dari Raja Salomo. Namun demikian, adalah tidak sehat saat uang menjadi sumber dari rasa aman dari problem di masa depan, dan menjadi substitusi dari pertolongan orang lain, baik secara emosional maupun spiritual, yang bisa saja kita butuhkan.



Uang berarti kebahagiaan. Berbagai iklan terus menawarkan segalanya yang dapat dibeli dengan uang. ‘Jika kita memakai pakaian yang tepat dan mengendarai mobil yang diidam-idamkan maka kita akan menjadi sangat bahagia’ demikian kira-kira pesan yang selalu kita tangkap saat melihat berbagai iklan di mass media. Walaupun mungkin banyak orang tidak mengakui bahwa mereka mempercayai asumsi ini, namun kebiasaan belanja mereka malah menyatakan sebaliknya.



Solusinya: jadilah bijaksana. Untuk menjadi berhasil dengan uang, kita perlu memperoleh kebijaksanaan. Kita perlu mengerti mengenai hal-hal yang tak dapat dibeli dengan uang, hal-hal yang tidak sinonim dengan uang, dan bahkan hal-hal yang lebih berharga dari uang itu sendiri. Putuskan untuk tidak langsung menerima setiap asumsi mengenai pengaruh uang yang Anda dengar di sekeliling Anda.





Money always talks. But it doesn’t mean that it is always right.





WisdomSeeker

No comments: