Monday, August 11, 2008

Freedom! From Chains of Debts in Your Life

Hi guys, just so you know, we're in the middle of discussing a new series: "Freedom! From Chains of Debts in Your Life". Fo the sake of continuity, please read from older posts.
Let me know what you think. Feel free to post your own response/thoughts on each post.
Have a great day.

WisdomSeeker

Ketika Uang ‘Berdusta’ Tentang Hidup Anda

NOTE: I find it again and again that people get trapped into mountain of debts because of a wrong (yes, I said it's wrong--I'm not being judgmental, I'm just telling it like it is) mindset about money. People equalize money with having achievement, freedom, respect, power, security and happiness. If you think that way, you have been deceived, and that's why you got trapped in piles of debt. Here is my article. Enjoy!








Ketika Uang ‘Berdusta’ Tentang Hidup Anda





‘Money talks,’ demikian sebuah ungkapan dari negeri Paman Sam. Seringkali uang disinonimkan dengan kekuasaan, pengaruh, dan kemapanan. Ketika pintu tak lagi terbuka, kala problem tertentu menghadang kehidupan, seringkali money talks, uang berbicara, dan segala pintu pun terbuka serta problem terpecahkan. Benarkah selalu demikian?

Menurut Ray Linder, pendiri dan CEO dari Family Financial Concepts, dalam bukunya What Will I Do With My Money? (Northfield Publishing, 2000), ternyata uang bisa saja ‘berkata dusta’ tentang hidup Anda. Ray Linder, yang adalah penasihat investasi serta pembicara populer di berbagai konperensi ini menjelaskan bahwa ada beberapa financial fallacies (argumen-argumen finansial yang salah) berbahaya yang mendasari sikap dan tingkah laku finansial seseorang. Financial fallacies ini cukup masuk akal, dan cukup banyak orang mempercayainya—sehingga sudah diterima sebagai nilai-nilai publik yang normal. Anda perlu mengidentifikasi financial fallacies ini, agar dapat menganalisa paradigma finansial Anda dengan lebih bijak. Mari cermati bersama argumen-argumen finansial yang salah berikut ini.



Uang sama dengan pencapaian. Mereka yang ingin merasa sukses (tentunya dengan berbagai alasan) biasanya ingin mendefinisikan kesuksesannya dengan tolok ukur yang tak terbantahkan dan dapat diterima secara luas. Uang adalah tolok ukur yang sangat cocok untuk itu. Lihatlah label-label yang diberikan pada masyarakat seperti upper class, lower class, serta gradasi-gradasi tambahan di antaranya seperti middle class, upper middle class, dan lower middle class. Keinginan kita untuk menghidupkan terus-menerus ‘perbedaan kasta’ tersebut adalah indikasi dari besarnya arti uang dan sense of accomplishment yang kita peroleh darinya.



Uang berarti kebebasan. Mereka yang merasakan tekanan saat harus membayar berbagai tagihan, menghadapi hubungan yang buruk, tuntutan dari bos, dan memelihara anak dan keluarga, adalah target yang mudah dari fallacy yang satu ini. Argumen ini mengatakan bahwa dengan uang yang cukup Anda bisa mendapatkan kebebasan dan berbagai macam pilihan—dan tidak ada orang yang bisa mendikte mengenai apa yang Anda boleh atau tidak boleh lakukan. Mereka memiliki argumen ini berpikir bahwa jika mereka tidak dapat memiliki apapun yang diinginkan pada saat hal itu diinginkan, penyebabnya adalah karena tidak memiliki uang yang cukup. Sebaliknya, jika memiliki uang maka mereka akan bebas dari tuntutan hidup sehari-hari.



Uang sama dengan respek. Anggapan ini berawal ketika Anda mengasosiasikan nilai diri (self-worth) dengan nilai bersih (net worth) finansial Anda, seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain. Asumsi yang berpusat pada diri sendiri ini adalah suatu penilaian akan kehidupan berdasarkan pada berapa banyak uang (dan juga harta milik) yang dimiliki. Akibatnya, uang dipakai untuk menciptakan rasa percaya diri, serta affection dan loyalitas orang lain pada diri kita.



Uang berarti kekuasaan. Jika uang adalah kekuasaan, berarti memiliki kontrol secara finansial adalah sama dengan memiliki kontrol terhadap situasi dan orang lain. Bila hal ini terus terjadi dalam kehidupan seseorang, maka akibat terus menerus ingin mengejar kontrol atas finansial (agar memiliki kontrol atas hal-hal lainnya) akhirnya ia bisa kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri.



Uang sama dengan keamanan. Tentunya adalah bijak untuk menyisihkan uang Anda untuk menghadapi hal-hal tak terduga di masa depan dan menjadi tenang karenanya. ‘Mereka yang bijak melihat bahaya dari kejauhan dan mengantisipasinya, namun mereka yang bodoh melangkah dengan buta dan terkena akibatnya’, demikian ungkapan bijak dari Raja Salomo. Namun demikian, adalah tidak sehat saat uang menjadi sumber dari rasa aman dari problem di masa depan, dan menjadi substitusi dari pertolongan orang lain, baik secara emosional maupun spiritual, yang bisa saja kita butuhkan.



Uang berarti kebahagiaan. Berbagai iklan terus menawarkan segalanya yang dapat dibeli dengan uang. ‘Jika kita memakai pakaian yang tepat dan mengendarai mobil yang diidam-idamkan maka kita akan menjadi sangat bahagia’ demikian kira-kira pesan yang selalu kita tangkap saat melihat berbagai iklan di mass media. Walaupun mungkin banyak orang tidak mengakui bahwa mereka mempercayai asumsi ini, namun kebiasaan belanja mereka malah menyatakan sebaliknya.



Solusinya: jadilah bijaksana. Untuk menjadi berhasil dengan uang, kita perlu memperoleh kebijaksanaan. Kita perlu mengerti mengenai hal-hal yang tak dapat dibeli dengan uang, hal-hal yang tidak sinonim dengan uang, dan bahkan hal-hal yang lebih berharga dari uang itu sendiri. Putuskan untuk tidak langsung menerima setiap asumsi mengenai pengaruh uang yang Anda dengar di sekeliling Anda.





Money always talks. But it doesn’t mean that it is always right.





WisdomSeeker

Sunday, August 10, 2008

Think Like A Millionaire!

Note: In this article of mine, you'll find that true millionaires don't live excessively. Why this article is important in breaking free from debt? Because one of the surest way (and the very root) of debt is an excessive, lavish, beyond-one's-means living. What do you think?





Think Like A Millionaire!
Menjadi Pribadi Yang Piawai Dalam Menciptakan—dan Memelihara—Kekayaan



Who wants to be a millionaire? Siapa yang mau jadi jutawan? Keinginan untuk menjadi kaya—bahkan dengan cepat—rupanya sudah ada sejak dulu. Tahun 1937, Napoleon Hill merilis bukunya Think and Grow Rich, yang berisi 13 langkah menuju kekayaan. Sebelumnya, Wallace D. Wattles sudah meluncurkan The Science of Getting Rich pada tahun 1910. Di awal milenium sekarang ini, berbagai resources yang mengajarkan bagaimana menjadi kaya—jangan lupa: dengan cepat—kian menjamur. Semua buku, seminar, dan video teaching menyanyikan refrain yang sama, dengan klaim yang semakin keras, bahwa semua orang bisa menjadi kaya.


Lihat saja judul-judul buku laris ini: Rich Dad, Poor Dad (Robert Kiyosaki), The One Minute Millionaire (Mark Victor Hansen dan Robert Allen), dan The Parable of Pipeline (Burke Hedges). Semuanya mencoba untuk memberi jawaban atas kerinduan banyak orang untuk menjadi kaya. Namun, obsesi untuk menjadi jutawan tidak selalu konsisten dengan realitas. Mari mendarat lagi ke bumi dan lupakan dulu keinginan untuk menjadi kaya dengan cepat. Kesampingkan dulu berbagai strategi yang Anda miliki untuk menjadi jutawan dengan instan: membuka perusahaan dot-com, bergabung dengan multi-level marketing, mendapat warisan, termasuk bahkan menikah dengan seorang jutawan. Sebenarnya, ketimbang bertanya, ‘Who wants to be a millionaire’, sebaiknya kita bertanya ‘who wants to think a millionaire?’ Cobalah untuk mengerti bagaimana jutawan berpikir.


Dalam bukunya The Millionaire Mind yang terjual laris, Thomas J. Stanley (juga pengarang buku The Millionaire Next Door) melakukan survei terhadap hampir seribu jutawan di A.S. Pertama, ia menyortir antara para jutawan yang memiliki balance-sheet yang baik, dengan para jutawan yang hidup dikelilingi berbagai hal yang luks namun sebenarnya terlilit utang. Para jutawan dengan balance-sheet yang baik cenderung memiliki rumah tanpa hipotek, sementara para jutawan yang hidup mewah memiliki pinjaman berukuran jumbo. Menurut database Internal Revenue Service (IRS) negeri Paman Sam, para jutawan dengan aset antara 2 sampai 5 juta dolar A.S rata-rata tinggal di rumah yang bernilai 335 ribu dolar A.S. Jika Anda ingin berpikir seperti jutawan, temuan Pak Stanley ini akan sangat membantu Anda.



Belajar Berpikir Seperti Para Jutawan
Stanley menemukan dalam surveinya bahwa para jutawan ini cenderung memulai bisnis mereka, dan membangun kekayaan mereka dengan menemukan niche (ceruk pasar) yang menguntungkan. Mereka cenderung menyukai apa yang mereka lakukan dan termotivasi dengan membangun bisnis, bukan dengan membangun kekayaan.


Mereka memiliki gaya hidup yang nyaman, namun tidak boros. Salah satu contoh, kebanyakan dari para jutawan dalam survei itu mengakui bahwa mereka membeli sepatu-sepatu berharga mahal, namun hampir semua dari mereka mengganti sol sepatunya ketika rusak. Hampir seluruh jutawan tetap menikah dengan pasangan yang suportif dan bertanggung jawab, yang menjalankan rumah tangga yang produktif dan ekonomis—dari menggunting kupon sampai membeli persediaan rumah tangga secara borongan. Intinya: mereka membelanjakan lebih sedikit dari jumlah pendapatan yang mereka terima.


Mengenai investasi, para jutawan ini melihat pasar saham terutama sebagai suatu tempat untuk menumbuhkan modal setelah bisnis mereka telah berkembang dewasa. Mereka bukanlah spekulator di pasar, jarang mengunjungi kasino dan hampir-hampir jarang membeli tiket lotere. Anda mungkin berpikir, ‘Tentu saja, mereka tidak perlu berspekulasi karena mereka sudah kaya.’ Namun mungkin justru berbagai kualitas kestabilan inilah yang membuat mereka menjadi kaya.


Ada satu elemen lain yang mengejutkan dalam survei ini. Kebanyakan dari para jutawan ini bukanlah yang terbaik di kelasnya saat bersekolah, dan nilai SAT mereka juga bukanlah yang tertinggi. Sebaliknya, banyak dari mereka hanya murid-murid biasa, dan telah diberitahu oleh guru-gurunya bahwa mereka tidak akan berhasil. Akibatnya, mereka mengembangkan determinasi dan resiliensi yang menolong mereka dalam bisnis. Dan untuk mengganti kekurangan skill akademis, mereka mempelajari kepemimpinan untuk dari berbagai cara, seperti melalui olah raga.


Beberapa karakteristik lain yang dimiliki oleh para jutawan dalam survei ini:



  • Mereka mengalokasikan waktu, energi, dan uang mereka dengan efisien, dalam cara-cara yang kondusif untuk membangun kekayaan.

  • Mereka percaya bahwa financial independence lebih penting dari status sosial.

  • Orang tua mereka tidak menyediakan perawatan berobat jalan.

  • Anak-anak mereka mampu mandiri secara ekonomi saat telah dewasa.

  • Mereka mahir dalam mentargetkan berbagai kesempatan di pasar.

  • Mereka memilih pekerjaan yang tepat.

Menurut artikel Terry Savage di MSN Money, memang bisa saja muncul argumentasi bahwa para jutawan dalam survei ini sudah ‘tua’—minimal, mereka memperoleh kekayaan mereka dari the Old Economy. Jika dilihat dari database di IRS dan Biro Sensus, yang adalah salah satu sumber temuan survei Thomas Stanley, mungkin hal ini benar. Namun, di tengah merebaknya the New Economy di mana teknologi telah mengubah cara kita berkomunikasi, berbelanja, dan berbisnis, apakah basic rules untuk menciptakan dan mempertahankan kekayaan juga ikut berubah?


Ingat, atribut jutawan yang sebenarnya adalah bukan saja sikap hidup yang hiper konsumtif dan dikelilingi oleh barang-barang mewah. Berbagai iklan di media banyak memberikan gambaran mengenai ‘kesuksesan’ di masyarakat kita yang modern. Namun, iklan-iklan tersebut tidak hanya menjual produk atau jasa, namun juga gaya hidup. Identifikasikan diri Anda bukan dengan gaya hidup yang dipotretkan di media, namun dengan kualitas intangible dalam pikiran mereka. Dua karakteristik lain yang dimiliki oleh semua self-made millionaires ini adalah: Mereka berpikir secara berbeda dari orang banyak, dan mereka memiliki kepercayaan diri yang begitu kuat. Masih ingin menjadi jutawan? Well, mulailah berpikir seperti jutawan sejati.


WisdomSeeker

Saturday, August 9, 2008

Four ESSENTIAL Tips to Break Free From Any Debts

Note: These tips are very foundational on breaking free from any debts. You can't afford not to apply them. It makes sense and they are very simple.


Bebas dari Utang? Mengapa Tidak!


Gaya hidup ‘berutang’ sudah begitu marak dewasa ini. Utang kelihatannya sudah dianggap sebagai solusi sementara dari kebutuhan saat ini, dan seringkali terus dilakukan tanpa perhitungan akan dampak negatifnya di masa depan. Utang bersifat mengikat, dan tak jarang membuat orang yang terpercaya sekalipun menjadi tak bertanggung-jawab. Utang adalah suatu hal yang tidak perlu dibiarkan lama-lama pada hidup Anda—bahkan lebih baik kita tidak memilikinya!

Untuk bebas dari utang, Anda perlu memiliki sebuah battle plan. Ron dan Judy Blue dalam bukunya Money Talks and So Can We (Zondervan, 1999) mengetengahkan empat tips sederhana menuju debt-free life.

1. Hitung berapa utang Anda.
Daftarkan semua kewajiban Anda, seluruh jumlah uang yang menjadi utang Anda pada siapapun, untuk apapun, termasuk bunganya. Hadapi utang Anda, dan jangan melakukan financial denial (penyangkalan akan keadaan finansial yang sebenarnya). Langkah pertama ini sangat krusial.

2. Ketahui apa penyebab utang Anda.
Utang sebenarnya tidaklah selalu negatif. Ada saat di mana kita butuh pinjaman, seperti untuk membeli rumah, memulai bisnis baru, atau untuk membiayai pendidikan. Pada setiap contoh tadi, keuntungan yang akan Anda terima bisa melampaui biaya-biaya yang timbul, sehingga kita dapat membuat sebuah rencana yang realistis untuk mengembalikan pinjaman pada waktunya.

Sedangkan hal-hal seperti impulse buying, atau pembelian yang Anda lakukan tanpa anggaran maupun rencana yang jelas untuk membayarnya, dapat menjebak Anda dalam jerat utang. Seringkali pembelian itu dibuat agar Anda merasa senang di tengah masalah yang sedang dihadapi. Misalnya, ketika suatu pasangan sedang bermasalah dalam pernikahan, mereka bisa saja memutuskan untuk berbelanja home theater equipment lengkap untuk mencerahkan suasana di rumah. Hasilnya, pernikahan itu malah semakin stress akibat utang tambahan.
Perhatikan daftar utang-utang Anda dan pikirkan mengapa Anda awalnya mengeluarkan uang. Putuskan untuk berhenti membeli dengan cara kredit untuk hal-hal yang belum mampu Anda tanggulangi secara finansial atau tidak Anda butuhkan.


3. Susunlah rencana pengembalian utang yang realistis.
Untuk dapat mengembalikan utang, Anda perlu meningkatkan income Anda dan/atau mengurangi biaya-biaya pengeluaran Anda. Hal-hal seperti menabung, memperbaiki sendiri kerusakan di rumah Anda, memakai dulu barang-barang lama tanpa harus membeli yang baru, dan mengubah gaya hidup tertentu yang agak berlebihan, dapat membuat Anda memiliki dana ekstra untuk menyelesaikan utang Anda.

Mulailah dengan membayar utang terkecil. Dengan mengalami sukses di awal pertarungan, Anda akan termotivasi untuk meraih sukses selanjutnya. Fokuskan diri pada utang yang memiliki bunga tertinggi dari yang lainnya. Sadarilah bahwa proses ini membutuhkan waktu.


4. Miliki accountability partner.
Akuntabilitas membangun fokus dan disiplin. Bertanggungjawablah pada seseorang yang terpercaya dalam pertimbangan dan integritasnya. Sebaiknya jangan pada pasangan Anda, karena bisa saja terjadi kompromi dan kesulitan dalam penilaian yang obyektif. Anda dapat menghubungi layanan-layanan konseling finansial semacam Consumer Credit Counseling Service (CCCS) di Amerika Serikat, yang dengan biaya bulanan yang terhitung murah dapat menolong Anda membuat rencana pengembalian utang (debt repayment plan), bernegosiasi dengan para kreditor untuk mendapatkan angsuran bulanan yang lebih kecil dan mengurangi bunga.
Dengan menyelesaikan utang, Anda akan lebih banyak mengurangi stress hidup dan juga penyebab potensial dari berbagai masalah lain. Tingkatkan kualitas hidup Anda secara finansial. Bebas dari utang? Mengapa tidak!

Thursday, August 7, 2008

How to Lose Your Money in 10 Ways

Note: This article of mine was printed in INTRA business magazine. It's still relevant for all of us who want to break free from debt. It's obvious but also "not so obvious" at the same time. Many of these 10 ways are from my own experience. Let me know what you think.


How to Lose Your Money in 10 Ways


Pernahkah Anda merasa bahwa sepertinya uang Anda semakin berkurang tanpa disadari? Mungkin Anda mulai berpikir bahwa ada ‘sesuatu’ yang melubangi pundi-pundi uang Anda dan mencuri isinya sedikit demi sedikit. Anda sudah melihat buku tabungan Anda, dan memeriksa setiap pengeluaran yang tercatat di sana, namun masih juga belum bisa menemukan apa penyebab semua ini. Sementara itu, uang Anda terus menerus berkurang—bahkan dalam kecepatan yang terus bertambah.

Ternyata, yang terjadi adalah: setiap hari kita semua sering menghambur-hamburkan uang dengan berbagai cara yang sembarangan dan tanpa perhitungan. Semua ini sering luput dari perhatian, mengacaukan anggaran dan ‘melubangi’ dompet kita. Nah, sudah saatnya kita mengidentifikasi dan melakukan sesuatu untuk menanganinya dengan baik—atau uang kita akan terus berkurang karenanya. Namun, jika memang mau membiarkan uang hilang percuma, inilah 10 cara untuk mengalaminya….

(1) High Tech Life Abad Milenium
Hidup di abad 21 ini memang sangat sibuk sehingga kita jadi merasa perlu untuk memiliki berbagai macam gadgets serta layanan-layanan lainnya yang sebenarnya ada untuk ‘membuat hidup jadi lebih mudah’. Namun, untuk gadgets saja misalnya, ternyata kita harus membayar biaya akses, download fees, biaya aktivasi, pemakaian dan subscription fees, dan masih banyak lagi. Bagaimana dengan telepon genggam komunikator pintar Anda yang terbaru—yang katanya mampu berkoneksi internet, mendengar radio dan mp3, men-download files, menjadi organizer handal, namun terus menerus ditambah memorinya agar dapat menampung berbagai software dan games? Kelihatannya bukannya ‘membuat hidup lebih mudah’, namun malah justru ‘lebih mahal…’

(2) ‘Upgrade’ diam-diam…
Kita sering terkena ‘jerat’ ini saat mendaftar di suatu layanan tertentu dengan tawaran free trial, yaitu boleh mencoba dulu sampai jangka waktu tertentu (dua minggu atau satu bulan, misalnya). Biasanya kita juga meninggalkan nomor kartu kredit kita, sehingga setelah jangka waktu free trial-nya usai dan kita menyukai layanan itu, keanggotaan kita otomatis segera di-upgrade ke kelas berikutnya…dan tentunya kartu kredit kita akan didebet sesuai biaya langganannya.
Penulis pernah mengalami ini ketika mendaftar layanan ­e-fax dan real one player di internet. Setelah masa free-trial sudah habis, tiba-tiba bulan depan tagihan kartu kredit sudah bertambah, padahal penulis tidak berniat berlangganan. Karena sering lupa menghentikan subscription itu dan memang awalnya tidak tahu bagaimana caranya, akhirnya selama beberapa bulan ‘sumbangan’ dana penulis ikut menambah income kedua layanan itu. Jika Anda ingin mencoba free trial, perhatikan tanggal berakhirnya—apalagi bila sudah mengisi nomor kartu kredit di form yang ada. Bila tidak berniat meneruskan, segera cancel subscription Anda sebelum free trial-nya habis.

(3) Membership yang tidak pernah dipakai
Baru-baru ini Harvard mengeluarkan sebuah studi yang menyimpulkan bahwa menjadi anggota klub fitness justru adalah cara yang efektif untuk mencegah kita berolahraga. Sudah tidak berolahraga, harus membayar pula setiap bulan! Belum lagi membership yang lainnya…

(4) Menolak ‘free money’
Fasilitas apapun yang ditawarkan perusahaan seperti dana pensiun, rekening belanja yang fleksibel atau checkup tahunan gratis—sebaiknya terimalah! Menolaknya adalah salah satu bentuk pemborosan. Pikirkan bila jumlah free money itu justru keluar dari kocek Anda.

(5) Tidak menyimpan bukti pembayaran
Yang satu ini juga adalah hal kecil yang berpotensi melubangi dompet Anda. Slip pembayaran setelah melakukan transfer ke rekening orang lain, membayar parkir, angsuran, dan lain-lain jika hilang bisa membuat kita pusing kepala—karena sulit melakukan pembuktian ketika dibutuhkan.
Padahal, pada umumnya menyimpan bukti-bukti pembayaran yang penting sebenarnya tidak sulit. Namun bisa mempersulit kita—bahkan merogoh ekstra dana dari kocek kita, bila kita ceroboh.

(6) Keterlambatan
Keterlambatan juga adalah salah satu penyebab ‘kebocoran’ pada uang Anda. Tidak membayar tagihan listrik, telepon, dan kartu kredit tepat waktu, membayar pajak dan angsuran kredit lewat dari tanggal yang telah ditentukan dapat mengakibatkan ‘penalty’ yang cukup menguras dana Anda.
Sebagai contoh, Blockbuster Video di Amerika Serikat melaporkan bahwa lebih dari 15 persen dari pendapatannya (totalnya: 4, 4 juta Dolar A.S) ternyata berasal dari ‘extended viewing fees’, atau denda keterlambatan pengembalian video dan DVD film yang dipinjam.
[i] Wow! Sekali lagi: catat semua tanggal penting—di telepon genggam, PDA, komputer, agenda, bahkan kalau perlu tempelkan post-it di kaca rias Anda!

(7) ‘Paket’ yang tidak perlu
Teliti dulu tawaran paket layanan yang disodorkan pada Anda. Jangan cepat tergiur. Bila Anda tidak teliti, Anda juga akan membayar untuk berbagai servis yang sebenarnya tidak Anda butuhkan—namun bagian dari ‘paket’ layanan yang Anda pilih. Belum lagi pajak atau biaya tambahan lainnya. Akhirnya, Anda ternyata mungkin malah membayar lebih mahal. Solusinya? Teliti lagi dan lagi…

(8) Shopping…shopping…shopping…
Coba pikir berapa banyaknya dana yang harus Anda keluarkan untuk…

  • Membeli baju bermerek mahal yang bisa membuat Anda selangsing Nicole Kidman atau Charlize Theron, namun sayangnya…tidak demikian—dan malah tidak pernah dipakai karena menunggu sampai tubuh Anda bisa lebih ‘proporsional’…dan membuat Anda menjadi semakin stress setiap kali Anda melihatnya.
  • Belanja aksesoris tertentu (seperti aksesoris ski, golf, yacht, dan lain-lain) yang sebenarnya terlalu mahal buat kita. (Apalagi kalau ternyata nggak dipakai).
  • Membeli patung mahal hanya karena bercorak etnik dan barang-barang mahal lainnya—hanya karena lapar mata! Sampai di rumah, ternyata sang patung tidak match dengan pajangan lainnya…

(9) Baru terima gaji!
Begitu saat paling berbahagia tiba—saat gajian tentunya—kita langsung bergegas ke mal, makan di resto favorit dan nonton film box office di bioskop terkenal. Saat-saat inilah emotional buying paling rawan terjadi. Biasanya, belakangan ketika sudah ‘sadar’, uang kita ternyata tinggal sedikit, sehingga harus mengencangkan ikat pinggang sekencang-kencangnya sampai waktu gajian lagi. Yang satu ini sudah banyak memakan korban. Bagaimana dengan Anda?

(10) Korban hobi
Mungkin ada banyak orang yang punya hobi murah. Namun beberapa orang punya hobi mahal seperti mendandani mobil, high cost sport, memancing di perairan laut dalam, berburu, berpetualang ke tempat-tempat eksotik, dan sebagainya. Penulis pernah mendengar cerita tentang seorang yang punya hobi fotografi yang hampir bercerai dengan istrinya karena dana dihabiskan untuk membeli berbagai jenis lensa tele yang mahal. Well, hobby is something you do just for fun. Bukannya untuk membuat bangkrut. Setuju?

Bagaimana dengan Anda? Kenalilah pencuri-pencuri dana simpanan Anda—bahkan mungkin yang tidak teridentifikasikan di sini. Hentikan pengeluaran-pengeluaran tertentu, dan kalau perlu sederhanakan gaya hidup Anda. Masih ingin kehilangan uang? Semuanya terserah Anda.



[i] Janey M. Rifkin, “Avoiding Dumb Mistakes That Can Cost You More Money”, Hispanic Times Magazine, 22 September 2001

Wednesday, August 6, 2008

Understanding Roots of Debt: Excessive Lifestyle (Part 2)

Kartu Kredit: Gaya Hidup Atau Hidup Gaya?

Proses pembayaran transaksi usaha pada abad 21 ini sudah semakin canggih. Untuk melakukan berbagai transaksi kita tidak lagi harus membutuhkan uang tunai—inilah yang sekarang dikenal sebagai “masyarakat tanpa uang tunai” (cashless society). Alternatif pembayaran selain tunai semakin dirasakan kemudahan dan manfaatnya; mulai dari cek, giro, kartu kredit sampai perintah pembayaran melalui media elektronik (ATM, e-banking, dan m-banking).

Banyak orang yang menggunakan kartu kredit sebagai media pembayaran dari berbagai transaksi yang mereka buat. Lalu tanpa terasa ada suatu masalah timbul: utang mulai membelit karena ketidakmampuan membayar tagihan kartu kredit, karena transaksi yang terlalu banyak dan tidak terkontrol atau hal-hal lainnya. Bagaimana dengan pemakaian kartu kredit Anda? Sebagai contoh, orang Amerika rata-rata membayar 450 Dolar A.S per tahun untuk mencapai balance dari 2.500 Dolar A.S pada dua atau tiga kartu kredit.[i] Sedangkan pada tahun 2001 saja, total utang kartu kredit di A.S sudah mencapai sekitar 600 milyar Dolar, dan dengan cepat mendekati 1 trilyun Dolar![ii]

Lalu bagaimana kita seharusnya menggunakan kartu kredit dengan benar? Sebenarnya penggunaan kartu kredit bisa menjadi suatu gaya hidup biasa, tetapi bisa juga cuma sekedar suatu atribut untuk ‘hidup gaya’. Di sinilah letak “garis kritisnya”. Filosofi pemakaian dan pemilihan kartu kredit sangat menentukan. Menurut Leonardo A. Sjiamsuri, MBA., filosofi ini dapat dibagi menjadi dua yaitu: gaya hidup dan ‘hidup gaya’.

Gaya Hidup
Filosofi ini pada dasarnya berpijak pada KEMUDAHAN (kepraktisan). Pembayaran dapat dilakukan dengan mudah tanpa harus membawa uang tunai (menghindari resiko kecurian atau hilang) dan dapat dipakai di seluruh dunia (uang asing dibawa secukupnya saja). Di samping itu pemakai memperoleh keuntungan dalam bentuk penghematan (sekalipun tidak terlalu signifikan). Uang yang harusnya dapat dikeluarkan pada saat transaksi terjadi, dapat disimpan dalam rekening tabungan di bank untuk sementara waktu sampai tagihan untuk transaksi tersebut tiba ke alamat pemakainya.

Dalam keadaan darurat—misalnya sakit yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit—kartu kredit akan dapat membantu kita. Jadi filosofi “gaya hidup” yang didasarkan atas “motif yang bertanggung jawab” akan membuat kartu kredit sebagai sarana kemudahan.


‘Hidup Gaya’
Filosofi ini pada dasarnya berpijak pada GENGSI (harga diri). Di sini pemilikan kartu kredit dimaksudkan untuk menunjukkan harga diri atau status sosial seseorang. Seseorang menjadi terangsang untuk mempunyai berbagai macam kartu kredit di dompetnya sebagai bukti kehebatan statusnya, sehingga biaya iuran tahunannya menjadi tinggi.

Selain itu filosofi ini juga merangsang seseorang untuk membeli barang-barang yang belum tentu bermanfaat, atau membeli barang-barang yang sedang ada potongan harga meskipun pada kenyataannya barang tersebut tidak begitu penting. Hal ini terjadi karena si pemilik beranggapan “kemampuan membelinya” menjadi lebih tinggi padahal itu adalah pinjaman. Ini bisa mengakibatkan “besar pasak dari pada tiang” yang akhirnya bisa terjerat hutang. Jadi pada prinsipnya KEADAAN HATI dan KEDEWASAAN seseorang (motif, penguasaan diri, dan tanggung jawab) yang menentukan bahaya pemakaian kartu kredit. Apabila pemiliknya sulit menguasai diri dan tidak bisa “dipercaya” karena tidak bertanggung jawab dan disiplin, maka kartu kredit sebaiknya dihindari sejauh mungkin.


Salahkah?
Ada yang berpendapat bahwa memiliki kartu kredit itu salah, karena akan membawa kita kepada gaya hidup berhutang. Namun financial counselor terkenal Larry Burkett menjelaskan bahwa sebenarnya masalahnya bukan pada kartu kredit, namun pada penyalahgunaan uang di masyarakat.[iii] Amsal 22:3 mengatakan, “Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka”.

Burkett lalu mengetengahkan empat aturan sederhana yang bila diterapkan dengan disiplin dapat membantu Anda untuk tidak menyalahgunakan kartu kredit.

  1. Jangan gunakan kartu kredit Anda untuk apapun kecuali untuk pembelian yang sudah dianggarkan sebelumnya.
  2. Bayarlah kartu kredit setiap bulan. Jangan dibiarkan tidak dibayar lewat dari sebulan sehingga Anda harus membayar bunganya.
  3. Buatlah komitmen bahwa pada bulan pertama Anda memiliki tagihan kartu kredit yang tidak mampu dibayar, Anda akan menghancurkan kartu kredit Anda dan tidak akan memakainya lagi. (Sebaiknya demikian, sebelum terbelit kewajiban finansial yang lebih besar dari kemampuan Anda yang sebenarnya.)
  4. Ingatlah selalu bahwa hanya karena Anda mampu membeli sesuatu, tidak berarti Anda perlu membelinya.

Akhirnya, mintalah hikmat Tuhan dalam mengatur keuangan Anda. Sekali lagi, masalahnya bukan pada kartu kredit itu sendiri, yang hanyalah sebuah tool yang kita ciptakan untuk membuat hidup kita lebih nyaman dan efektif. Inti masalahnya seringkali adalah pada penggunanya. Akar dari credit card debt adalah pada kebiasaan spending atau berbelanja dari mereka yang memiliki dan menggunakan kartu kredit untuk alasan yang salah. Memakai kartu kredit untuk ‘hidup gaya’ hanya akan menjadi bumerang nantinya. Gaya hidup atau hidup gaya? Hanya Anda yang bisa menjawab! (yyr, ivf)

Endnotes
[i] Demikian menurut Gerri Detweiler dalam bukunya “The Ultimate Credit Handbook.”
[ii] George Mason, “A Freedom Too Few Enjoy,” Pacific Business News, 9 Juli 2001
[iii] Larry Burkett, “Taking Charge of Your Credit Card” audio tape, April, 1998.

Understanding Roots of Debt: Excessive Lifestyle (Part 1)

Note: This article was written by my good friend Yopie Roetanto in August 2003 for our devotional magazine 'Terang' (now discontinued). It is still very much relevant for now (five years later), that excessive lifestyle pushes us to live beyond our means. I will post my own related article as part two. Enjoy.


Gaya Hidup dan Uang

Gaya Hidup dan Jati Diri
Setiap orang pasti memiliki gaya hidupnya masing-masing, soal bagaimana mereka melakukan gaya hidupnya itu tergantung pada masing-masing pribadi yang melakukannya. Permasalahannya adalah apabila gaya hidup tersebut tidak sesuai dengan jati diri kita artinya gaya hidup yang kita jalani tidak sesuai dengan keberadaan kita. Lalu bagaimana dengan hidup Anda: apakah gaya hidup Anda sesuai dengan jati diri atau keberadaan Anda?

Gaya hidup dipengaruhi pula oleh berbagai macam hal, antara lain adalah besarnya penghasilan kita, pola konsumsi kita—apakah cenderung sangat konsumtif atau sebaliknya sangat berhemat dan hal yang lainnya. Orang-orang berpenghasilan besar seperti manajer perusahaan, direktur perusahaan, artis atau profesi lainnya yang memiliki penghasilan yang sangat besar akan sangat berbeda gaya hidupnya dengan orang-orang yang berprofesi seperti pegawai negeri, guru sekolah dasar, buruh pabrik dan sebagainya.

Banyak orang seringkali bersikap seolah-olah mereka memiliki penghasilan yang besar. Ini ditunjukkan dengan pola konsumsi kita yang cenderung konsumtif dan tidak sebanding dengan penghasilan yang kita terima. Tidak terkecuali juga anak Tuhan atau orang Kristen seringkali menonjolkan gaya hidupnya, yang sebenarnya bukan jati dirinya. Dengan gaya hidup tersebut mereka akan merasa lebih percaya diri dan lebih merasa diterima di lingkungan tertentu, meskipun itu bertentangan dengan jati diri mereka yang sebenarnya.
"Dengan gaya hidup tersebut mereka akan merasa lebih percaya diri dan lebih merasa diterima di lingkungan tertentu, meskipun itu bertentangan dengan jati diri mereka yang sebenarnya."

Setiap kita harus menyadari bahwa jati diri kita tidak sepenuhnya dilihat dari gaya hidup yang mungkin kelihatannya mewah atau berlebihan, yang seringkali lebih diutamakan walau kita sebenarnya belumlah mandiri secara finansial—artinya kita tidak lagi membebani orang lain untuk memenuhi gaya hidup kita itu. Kita harus membangun gaya hidup kita dari hal-hal yang kecil hingga akhirnya kita mampu memiliki gaya hidup yang besar. Apabila Anda seorang yang berpenghasilan Rp. 1.000.000,- setiap bulan sesuaikanlah gaya hidup Anda dengan penghasilan Anda tersebut, saya yakin jati diri atau ‘image’ Anda tidak akan jatuh hanya karena Anda tidak memenuhi keinginan Anda untuk menjalani gaya hidup di luar kemampuan Anda.


Prioritas Utamakah Gaya Hidup Anda?
Sebagian besar orang meletakkan gaya hidup di urutan pertama. Orang yang meletakkan gaya hidupnya di urutan terakhir biasanya malah hidupnya menjadi tidak nyaman, karena mungkin anggarannya sudah tidak lagi memadai. Biasanya jika gaya hidup seseorang terganggu maka orang itu akan berusaha lebih keras lagi untuk untuk memperoleh penghasilan tambahan.

Jika kita perhatikan orang yang menaruh gaya hidupnya pada prioritas terakhir akan merasa tidak nyaman karena anggaran untuk gaya hidupnya berkurang tetapi sebenarnya ia memberi arti pada masa depannya dengan kata lain apakah kita adalah orang-orang yang lebih mengutamakan gaya hidup sesaat atau kita termasuk orang-orang yang lebih mementingkan masa depan? Dengan menaruh gaya hidup menjadi urutn terakhir dari priorotas-prioritas kita maka akan menjadikan kita lebih berpikir akan masa depan kita sehinga secara tidak langsung kita akan mencari jalan untuk menambah penghasilan kita dan itu berarti kita akan menjadi orang yang lebih kreatif. Lalu bagaimana sebaiknya kita menyusun hal-hal yang menjadi prioritas kita. Ada tiga macam prinsip untuk menjawab hal ini :

1. earn as much as possible
spend as much as possible
give as little as possible

Ini adalah jenis orang yang membangun harga dirinya atau jati dirinya dari apa yang dimilikinya. Mencari uang sebanyak mungkin, menikmatinya sepuas mungkin, dan memberi sesedikit mungkin.

2. earn as much as possible
spend as much as possible
give as much as possible

Mencari uang sebanyak mungkin, menikmati secukupnya, dan memberi sebanyak mungkin.

3. earn as much as possible
spend as light as possible
give as much as possible

Nilai hidupnya dibangun dari apa yang dapat diberikannya maka dalam hidupnya ia akan berusaha untuk terus memberi.
Orang seperti ini akan berpikir “jika saya harus memberi lebih banyak berarti saya juga harus mempunyai penghasilan yang lebih tinggi dan bekerja lebih keras, bukan untuk hidup lebih enak tetapi supaya dapat lebih banyak memberi”.
John Wesley pendiri gereja Methodist menganut prinsip ini. Sudah dapat dipastikan hidupnya sangat sederhana, tetapi dampak dari kehidupannya hingga saat ini masih terasa, lalu bagaimana dengan prioritas Anda apakah gaya hidup menempati posisi pada urutan pertama?


Pertumbuhan
Kita juga harus memikirkan agar manajemen keuangan kita mengalami pertumbuhan secara alamiah. Ketika usia seseorang bertambah maka kebutuhan hidupnya pun akan bertambah apalagi seseorang yang sudah berkeluarga pasti harus memikirkan cara yang terbaik agar keuangan keluarganya mengalami pertumbuhan. Jika seorang bekerja untuk mengalami pertumbuhan orang tersebut harus memikirkan bagaimana untuk meningkatkan karirnya di tempat dia bekerja atau bagaimana caranya agar bisnisnya lebih maju. Semua ini bukan ditujukan untuk menjadi lebih berkuasa karena memiliki lebih banyak harta, tapi dengan bertumbuhnya keuangan kita maka kita pun akan lebih banyak memberi.

Dengan memikirkan pertumbuhan secara keuangan berarti kita juga bertanggung jawab atas masa depan kita. Kemampuan untuk menghadapi masa depan adalah merupakan wujud dari tanggung jawab kita, di mana hal ini menunjukkan bahwa dari waktu ke waktu kita ingin menjadi pribadi yang mandiri, bukan hanya untuk tahun ini saja tetapi untuk lima tahun ke depan dan tahun tahun di depan kita.

Sekali lagi perlu kita renungkan bahwa kita akan merasa nyaman menjalani gaya hidup jika sesuai jati diri kita, sesuai dengan nilai-nilai hidup kita dan prinsip-prinsip hidup kita jadi bukan semata-mata untuk hidup gaya. *