Thursday, August 7, 2008

How to Lose Your Money in 10 Ways

Note: This article of mine was printed in INTRA business magazine. It's still relevant for all of us who want to break free from debt. It's obvious but also "not so obvious" at the same time. Many of these 10 ways are from my own experience. Let me know what you think.


How to Lose Your Money in 10 Ways


Pernahkah Anda merasa bahwa sepertinya uang Anda semakin berkurang tanpa disadari? Mungkin Anda mulai berpikir bahwa ada ‘sesuatu’ yang melubangi pundi-pundi uang Anda dan mencuri isinya sedikit demi sedikit. Anda sudah melihat buku tabungan Anda, dan memeriksa setiap pengeluaran yang tercatat di sana, namun masih juga belum bisa menemukan apa penyebab semua ini. Sementara itu, uang Anda terus menerus berkurang—bahkan dalam kecepatan yang terus bertambah.

Ternyata, yang terjadi adalah: setiap hari kita semua sering menghambur-hamburkan uang dengan berbagai cara yang sembarangan dan tanpa perhitungan. Semua ini sering luput dari perhatian, mengacaukan anggaran dan ‘melubangi’ dompet kita. Nah, sudah saatnya kita mengidentifikasi dan melakukan sesuatu untuk menanganinya dengan baik—atau uang kita akan terus berkurang karenanya. Namun, jika memang mau membiarkan uang hilang percuma, inilah 10 cara untuk mengalaminya….

(1) High Tech Life Abad Milenium
Hidup di abad 21 ini memang sangat sibuk sehingga kita jadi merasa perlu untuk memiliki berbagai macam gadgets serta layanan-layanan lainnya yang sebenarnya ada untuk ‘membuat hidup jadi lebih mudah’. Namun, untuk gadgets saja misalnya, ternyata kita harus membayar biaya akses, download fees, biaya aktivasi, pemakaian dan subscription fees, dan masih banyak lagi. Bagaimana dengan telepon genggam komunikator pintar Anda yang terbaru—yang katanya mampu berkoneksi internet, mendengar radio dan mp3, men-download files, menjadi organizer handal, namun terus menerus ditambah memorinya agar dapat menampung berbagai software dan games? Kelihatannya bukannya ‘membuat hidup lebih mudah’, namun malah justru ‘lebih mahal…’

(2) ‘Upgrade’ diam-diam…
Kita sering terkena ‘jerat’ ini saat mendaftar di suatu layanan tertentu dengan tawaran free trial, yaitu boleh mencoba dulu sampai jangka waktu tertentu (dua minggu atau satu bulan, misalnya). Biasanya kita juga meninggalkan nomor kartu kredit kita, sehingga setelah jangka waktu free trial-nya usai dan kita menyukai layanan itu, keanggotaan kita otomatis segera di-upgrade ke kelas berikutnya…dan tentunya kartu kredit kita akan didebet sesuai biaya langganannya.
Penulis pernah mengalami ini ketika mendaftar layanan ­e-fax dan real one player di internet. Setelah masa free-trial sudah habis, tiba-tiba bulan depan tagihan kartu kredit sudah bertambah, padahal penulis tidak berniat berlangganan. Karena sering lupa menghentikan subscription itu dan memang awalnya tidak tahu bagaimana caranya, akhirnya selama beberapa bulan ‘sumbangan’ dana penulis ikut menambah income kedua layanan itu. Jika Anda ingin mencoba free trial, perhatikan tanggal berakhirnya—apalagi bila sudah mengisi nomor kartu kredit di form yang ada. Bila tidak berniat meneruskan, segera cancel subscription Anda sebelum free trial-nya habis.

(3) Membership yang tidak pernah dipakai
Baru-baru ini Harvard mengeluarkan sebuah studi yang menyimpulkan bahwa menjadi anggota klub fitness justru adalah cara yang efektif untuk mencegah kita berolahraga. Sudah tidak berolahraga, harus membayar pula setiap bulan! Belum lagi membership yang lainnya…

(4) Menolak ‘free money’
Fasilitas apapun yang ditawarkan perusahaan seperti dana pensiun, rekening belanja yang fleksibel atau checkup tahunan gratis—sebaiknya terimalah! Menolaknya adalah salah satu bentuk pemborosan. Pikirkan bila jumlah free money itu justru keluar dari kocek Anda.

(5) Tidak menyimpan bukti pembayaran
Yang satu ini juga adalah hal kecil yang berpotensi melubangi dompet Anda. Slip pembayaran setelah melakukan transfer ke rekening orang lain, membayar parkir, angsuran, dan lain-lain jika hilang bisa membuat kita pusing kepala—karena sulit melakukan pembuktian ketika dibutuhkan.
Padahal, pada umumnya menyimpan bukti-bukti pembayaran yang penting sebenarnya tidak sulit. Namun bisa mempersulit kita—bahkan merogoh ekstra dana dari kocek kita, bila kita ceroboh.

(6) Keterlambatan
Keterlambatan juga adalah salah satu penyebab ‘kebocoran’ pada uang Anda. Tidak membayar tagihan listrik, telepon, dan kartu kredit tepat waktu, membayar pajak dan angsuran kredit lewat dari tanggal yang telah ditentukan dapat mengakibatkan ‘penalty’ yang cukup menguras dana Anda.
Sebagai contoh, Blockbuster Video di Amerika Serikat melaporkan bahwa lebih dari 15 persen dari pendapatannya (totalnya: 4, 4 juta Dolar A.S) ternyata berasal dari ‘extended viewing fees’, atau denda keterlambatan pengembalian video dan DVD film yang dipinjam.
[i] Wow! Sekali lagi: catat semua tanggal penting—di telepon genggam, PDA, komputer, agenda, bahkan kalau perlu tempelkan post-it di kaca rias Anda!

(7) ‘Paket’ yang tidak perlu
Teliti dulu tawaran paket layanan yang disodorkan pada Anda. Jangan cepat tergiur. Bila Anda tidak teliti, Anda juga akan membayar untuk berbagai servis yang sebenarnya tidak Anda butuhkan—namun bagian dari ‘paket’ layanan yang Anda pilih. Belum lagi pajak atau biaya tambahan lainnya. Akhirnya, Anda ternyata mungkin malah membayar lebih mahal. Solusinya? Teliti lagi dan lagi…

(8) Shopping…shopping…shopping…
Coba pikir berapa banyaknya dana yang harus Anda keluarkan untuk…

  • Membeli baju bermerek mahal yang bisa membuat Anda selangsing Nicole Kidman atau Charlize Theron, namun sayangnya…tidak demikian—dan malah tidak pernah dipakai karena menunggu sampai tubuh Anda bisa lebih ‘proporsional’…dan membuat Anda menjadi semakin stress setiap kali Anda melihatnya.
  • Belanja aksesoris tertentu (seperti aksesoris ski, golf, yacht, dan lain-lain) yang sebenarnya terlalu mahal buat kita. (Apalagi kalau ternyata nggak dipakai).
  • Membeli patung mahal hanya karena bercorak etnik dan barang-barang mahal lainnya—hanya karena lapar mata! Sampai di rumah, ternyata sang patung tidak match dengan pajangan lainnya…

(9) Baru terima gaji!
Begitu saat paling berbahagia tiba—saat gajian tentunya—kita langsung bergegas ke mal, makan di resto favorit dan nonton film box office di bioskop terkenal. Saat-saat inilah emotional buying paling rawan terjadi. Biasanya, belakangan ketika sudah ‘sadar’, uang kita ternyata tinggal sedikit, sehingga harus mengencangkan ikat pinggang sekencang-kencangnya sampai waktu gajian lagi. Yang satu ini sudah banyak memakan korban. Bagaimana dengan Anda?

(10) Korban hobi
Mungkin ada banyak orang yang punya hobi murah. Namun beberapa orang punya hobi mahal seperti mendandani mobil, high cost sport, memancing di perairan laut dalam, berburu, berpetualang ke tempat-tempat eksotik, dan sebagainya. Penulis pernah mendengar cerita tentang seorang yang punya hobi fotografi yang hampir bercerai dengan istrinya karena dana dihabiskan untuk membeli berbagai jenis lensa tele yang mahal. Well, hobby is something you do just for fun. Bukannya untuk membuat bangkrut. Setuju?

Bagaimana dengan Anda? Kenalilah pencuri-pencuri dana simpanan Anda—bahkan mungkin yang tidak teridentifikasikan di sini. Hentikan pengeluaran-pengeluaran tertentu, dan kalau perlu sederhanakan gaya hidup Anda. Masih ingin kehilangan uang? Semuanya terserah Anda.



[i] Janey M. Rifkin, “Avoiding Dumb Mistakes That Can Cost You More Money”, Hispanic Times Magazine, 22 September 2001

No comments: