Gaya Hidup dan Uang
Gaya Hidup dan Jati Diri
Setiap orang pasti memiliki gaya hidupnya masing-masing, soal bagaimana mereka melakukan gaya hidupnya itu tergantung pada masing-masing pribadi yang melakukannya. Permasalahannya adalah apabila gaya hidup tersebut tidak sesuai dengan jati diri kita artinya gaya hidup yang kita jalani tidak sesuai dengan keberadaan kita. Lalu bagaimana dengan hidup Anda: apakah gaya hidup Anda sesuai dengan jati diri atau keberadaan Anda?
Gaya hidup dipengaruhi pula oleh berbagai macam hal, antara lain adalah besarnya penghasilan kita, pola konsumsi kita—apakah cenderung sangat konsumtif atau sebaliknya sangat berhemat dan hal yang lainnya. Orang-orang berpenghasilan besar seperti manajer perusahaan, direktur perusahaan, artis atau profesi lainnya yang memiliki penghasilan yang sangat besar akan sangat berbeda gaya hidupnya dengan orang-orang yang berprofesi seperti pegawai negeri, guru sekolah dasar, buruh pabrik dan sebagainya.
Banyak orang seringkali bersikap seolah-olah mereka memiliki penghasilan yang besar. Ini ditunjukkan dengan pola konsumsi kita yang cenderung konsumtif dan tidak sebanding dengan penghasilan yang kita terima. Tidak terkecuali juga anak Tuhan atau orang Kristen seringkali menonjolkan gaya hidupnya, yang sebenarnya bukan jati dirinya. Dengan gaya hidup tersebut mereka akan merasa lebih percaya diri dan lebih merasa diterima di lingkungan tertentu, meskipun itu bertentangan dengan jati diri mereka yang sebenarnya.
"Dengan gaya hidup tersebut mereka akan merasa lebih percaya diri dan lebih merasa diterima di lingkungan tertentu, meskipun itu bertentangan dengan jati diri mereka yang sebenarnya."
Setiap kita harus menyadari bahwa jati diri kita tidak sepenuhnya dilihat dari gaya hidup yang mungkin kelihatannya mewah atau berlebihan, yang seringkali lebih diutamakan walau kita sebenarnya belumlah mandiri secara finansial—artinya kita tidak lagi membebani orang lain untuk memenuhi gaya hidup kita itu. Kita harus membangun gaya hidup kita dari hal-hal yang kecil hingga akhirnya kita mampu memiliki gaya hidup yang besar. Apabila Anda seorang yang berpenghasilan Rp. 1.000.000,- setiap bulan sesuaikanlah gaya hidup Anda dengan penghasilan Anda tersebut, saya yakin jati diri atau ‘image’ Anda tidak akan jatuh hanya karena Anda tidak memenuhi keinginan Anda untuk menjalani gaya hidup di luar kemampuan Anda.
Prioritas Utamakah Gaya Hidup Anda?
Sebagian besar orang meletakkan gaya hidup di urutan pertama. Orang yang meletakkan gaya hidupnya di urutan terakhir biasanya malah hidupnya menjadi tidak nyaman, karena mungkin anggarannya sudah tidak lagi memadai. Biasanya jika gaya hidup seseorang terganggu maka orang itu akan berusaha lebih keras lagi untuk untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Jika kita perhatikan orang yang menaruh gaya hidupnya pada prioritas terakhir akan merasa tidak nyaman karena anggaran untuk gaya hidupnya berkurang tetapi sebenarnya ia memberi arti pada masa depannya dengan kata lain apakah kita adalah orang-orang yang lebih mengutamakan gaya hidup sesaat atau kita termasuk orang-orang yang lebih mementingkan masa depan? Dengan menaruh gaya hidup menjadi urutn terakhir dari priorotas-prioritas kita maka akan menjadikan kita lebih berpikir akan masa depan kita sehinga secara tidak langsung kita akan mencari jalan untuk menambah penghasilan kita dan itu berarti kita akan menjadi orang yang lebih kreatif. Lalu bagaimana sebaiknya kita menyusun hal-hal yang menjadi prioritas kita. Ada tiga macam prinsip untuk menjawab hal ini :
1. earn as much as possible
spend as much as possible
give as little as possible
Ini adalah jenis orang yang membangun harga dirinya atau jati dirinya dari apa yang dimilikinya. Mencari uang sebanyak mungkin, menikmatinya sepuas mungkin, dan memberi sesedikit mungkin.
2. earn as much as possible
spend as much as possible
give as much as possible
Mencari uang sebanyak mungkin, menikmati secukupnya, dan memberi sebanyak mungkin.
3. earn as much as possible
spend as light as possible
give as much as possible
Nilai hidupnya dibangun dari apa yang dapat diberikannya maka dalam hidupnya ia akan berusaha untuk terus memberi.
Orang seperti ini akan berpikir “jika saya harus memberi lebih banyak berarti saya juga harus mempunyai penghasilan yang lebih tinggi dan bekerja lebih keras, bukan untuk hidup lebih enak tetapi supaya dapat lebih banyak memberi”.
John Wesley pendiri gereja Methodist menganut prinsip ini. Sudah dapat dipastikan hidupnya sangat sederhana, tetapi dampak dari kehidupannya hingga saat ini masih terasa, lalu bagaimana dengan prioritas Anda apakah gaya hidup menempati posisi pada urutan pertama?
Pertumbuhan
Kita juga harus memikirkan agar manajemen keuangan kita mengalami pertumbuhan secara alamiah. Ketika usia seseorang bertambah maka kebutuhan hidupnya pun akan bertambah apalagi seseorang yang sudah berkeluarga pasti harus memikirkan cara yang terbaik agar keuangan keluarganya mengalami pertumbuhan. Jika seorang bekerja untuk mengalami pertumbuhan orang tersebut harus memikirkan bagaimana untuk meningkatkan karirnya di tempat dia bekerja atau bagaimana caranya agar bisnisnya lebih maju. Semua ini bukan ditujukan untuk menjadi lebih berkuasa karena memiliki lebih banyak harta, tapi dengan bertumbuhnya keuangan kita maka kita pun akan lebih banyak memberi.
Dengan memikirkan pertumbuhan secara keuangan berarti kita juga bertanggung jawab atas masa depan kita. Kemampuan untuk menghadapi masa depan adalah merupakan wujud dari tanggung jawab kita, di mana hal ini menunjukkan bahwa dari waktu ke waktu kita ingin menjadi pribadi yang mandiri, bukan hanya untuk tahun ini saja tetapi untuk lima tahun ke depan dan tahun tahun di depan kita.
Sekali lagi perlu kita renungkan bahwa kita akan merasa nyaman menjalani gaya hidup jika sesuai jati diri kita, sesuai dengan nilai-nilai hidup kita dan prinsip-prinsip hidup kita jadi bukan semata-mata untuk hidup gaya. *

No comments:
Post a Comment