Wednesday, August 6, 2008

Understanding Roots of Debt: Excessive Lifestyle (Part 2)

Kartu Kredit: Gaya Hidup Atau Hidup Gaya?

Proses pembayaran transaksi usaha pada abad 21 ini sudah semakin canggih. Untuk melakukan berbagai transaksi kita tidak lagi harus membutuhkan uang tunai—inilah yang sekarang dikenal sebagai “masyarakat tanpa uang tunai” (cashless society). Alternatif pembayaran selain tunai semakin dirasakan kemudahan dan manfaatnya; mulai dari cek, giro, kartu kredit sampai perintah pembayaran melalui media elektronik (ATM, e-banking, dan m-banking).

Banyak orang yang menggunakan kartu kredit sebagai media pembayaran dari berbagai transaksi yang mereka buat. Lalu tanpa terasa ada suatu masalah timbul: utang mulai membelit karena ketidakmampuan membayar tagihan kartu kredit, karena transaksi yang terlalu banyak dan tidak terkontrol atau hal-hal lainnya. Bagaimana dengan pemakaian kartu kredit Anda? Sebagai contoh, orang Amerika rata-rata membayar 450 Dolar A.S per tahun untuk mencapai balance dari 2.500 Dolar A.S pada dua atau tiga kartu kredit.[i] Sedangkan pada tahun 2001 saja, total utang kartu kredit di A.S sudah mencapai sekitar 600 milyar Dolar, dan dengan cepat mendekati 1 trilyun Dolar![ii]

Lalu bagaimana kita seharusnya menggunakan kartu kredit dengan benar? Sebenarnya penggunaan kartu kredit bisa menjadi suatu gaya hidup biasa, tetapi bisa juga cuma sekedar suatu atribut untuk ‘hidup gaya’. Di sinilah letak “garis kritisnya”. Filosofi pemakaian dan pemilihan kartu kredit sangat menentukan. Menurut Leonardo A. Sjiamsuri, MBA., filosofi ini dapat dibagi menjadi dua yaitu: gaya hidup dan ‘hidup gaya’.

Gaya Hidup
Filosofi ini pada dasarnya berpijak pada KEMUDAHAN (kepraktisan). Pembayaran dapat dilakukan dengan mudah tanpa harus membawa uang tunai (menghindari resiko kecurian atau hilang) dan dapat dipakai di seluruh dunia (uang asing dibawa secukupnya saja). Di samping itu pemakai memperoleh keuntungan dalam bentuk penghematan (sekalipun tidak terlalu signifikan). Uang yang harusnya dapat dikeluarkan pada saat transaksi terjadi, dapat disimpan dalam rekening tabungan di bank untuk sementara waktu sampai tagihan untuk transaksi tersebut tiba ke alamat pemakainya.

Dalam keadaan darurat—misalnya sakit yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit—kartu kredit akan dapat membantu kita. Jadi filosofi “gaya hidup” yang didasarkan atas “motif yang bertanggung jawab” akan membuat kartu kredit sebagai sarana kemudahan.


‘Hidup Gaya’
Filosofi ini pada dasarnya berpijak pada GENGSI (harga diri). Di sini pemilikan kartu kredit dimaksudkan untuk menunjukkan harga diri atau status sosial seseorang. Seseorang menjadi terangsang untuk mempunyai berbagai macam kartu kredit di dompetnya sebagai bukti kehebatan statusnya, sehingga biaya iuran tahunannya menjadi tinggi.

Selain itu filosofi ini juga merangsang seseorang untuk membeli barang-barang yang belum tentu bermanfaat, atau membeli barang-barang yang sedang ada potongan harga meskipun pada kenyataannya barang tersebut tidak begitu penting. Hal ini terjadi karena si pemilik beranggapan “kemampuan membelinya” menjadi lebih tinggi padahal itu adalah pinjaman. Ini bisa mengakibatkan “besar pasak dari pada tiang” yang akhirnya bisa terjerat hutang. Jadi pada prinsipnya KEADAAN HATI dan KEDEWASAAN seseorang (motif, penguasaan diri, dan tanggung jawab) yang menentukan bahaya pemakaian kartu kredit. Apabila pemiliknya sulit menguasai diri dan tidak bisa “dipercaya” karena tidak bertanggung jawab dan disiplin, maka kartu kredit sebaiknya dihindari sejauh mungkin.


Salahkah?
Ada yang berpendapat bahwa memiliki kartu kredit itu salah, karena akan membawa kita kepada gaya hidup berhutang. Namun financial counselor terkenal Larry Burkett menjelaskan bahwa sebenarnya masalahnya bukan pada kartu kredit, namun pada penyalahgunaan uang di masyarakat.[iii] Amsal 22:3 mengatakan, “Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka”.

Burkett lalu mengetengahkan empat aturan sederhana yang bila diterapkan dengan disiplin dapat membantu Anda untuk tidak menyalahgunakan kartu kredit.

  1. Jangan gunakan kartu kredit Anda untuk apapun kecuali untuk pembelian yang sudah dianggarkan sebelumnya.
  2. Bayarlah kartu kredit setiap bulan. Jangan dibiarkan tidak dibayar lewat dari sebulan sehingga Anda harus membayar bunganya.
  3. Buatlah komitmen bahwa pada bulan pertama Anda memiliki tagihan kartu kredit yang tidak mampu dibayar, Anda akan menghancurkan kartu kredit Anda dan tidak akan memakainya lagi. (Sebaiknya demikian, sebelum terbelit kewajiban finansial yang lebih besar dari kemampuan Anda yang sebenarnya.)
  4. Ingatlah selalu bahwa hanya karena Anda mampu membeli sesuatu, tidak berarti Anda perlu membelinya.

Akhirnya, mintalah hikmat Tuhan dalam mengatur keuangan Anda. Sekali lagi, masalahnya bukan pada kartu kredit itu sendiri, yang hanyalah sebuah tool yang kita ciptakan untuk membuat hidup kita lebih nyaman dan efektif. Inti masalahnya seringkali adalah pada penggunanya. Akar dari credit card debt adalah pada kebiasaan spending atau berbelanja dari mereka yang memiliki dan menggunakan kartu kredit untuk alasan yang salah. Memakai kartu kredit untuk ‘hidup gaya’ hanya akan menjadi bumerang nantinya. Gaya hidup atau hidup gaya? Hanya Anda yang bisa menjawab! (yyr, ivf)

Endnotes
[i] Demikian menurut Gerri Detweiler dalam bukunya “The Ultimate Credit Handbook.”
[ii] George Mason, “A Freedom Too Few Enjoy,” Pacific Business News, 9 Juli 2001
[iii] Larry Burkett, “Taking Charge of Your Credit Card” audio tape, April, 1998.

No comments: